Tampilkan postingan dengan label Santapan Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santapan Rohani. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Desember 2010

Mengasah Ketajaman Mata Hati

Mengasah Ketajaman Mata Hati

Jumat, 26 November 2010, 10:56 WIB
Mengasah Ketajaman Mata Hati
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--"Katakanlah, 'Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah (argumentasi) yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik'". (QS Yusuf [12]: 108).

Ayat di atas merupakan ajakan untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan berbasis hujah, atau argumentasi. Sebuah ayat untuk menegaskan bahwa kehidupan keberagamaan seseorang harus dibangun berdasarkan argumentasi yang kuat, melalui ketajaman mata hati, atau basirah.

Semakin luas dan tajam basirah seseorang, semakin serius pula amaliah dan praktik keberagamaannya. Keikhlasan dan keistikamahan akan lahir dengan sendirinya. Dalam ayat di atas, Allah mendampingkan proses kewajiban dakwah dengan basirah sebagai sebuah kewajiban syari yang dituntut oleh Islam.

Ibnu Katsir mengidentifikasi basirah sebagai sebuah keyakinan yang berlandaskan argumentasi syari dan aqli yang kokoh, serta tidak taklid buta. Menurut Syaukani, basirah adalah pengetahuan yang mampu memilah yang hak dari yang batil, benar dari salah, dan begitu seterusnya.

Untuk mendapati ketajaman basirah, banyak amaliah yang harus dipenuhi.

Pertama, adanya sebuah kesadaran niat yang benar. Karena, niat yang salah akan turut mempengaruhi kinerja dan mengakibatkan kerja yang asal-asalan. Terlebih, ibadah dan amaliah ketaatan cenderung naik turun. Inilah rahasianya mengapa setiap amal dalam Islam harus didasari niat yang benar dan tulus karena Allah.

Kedua, untuk menajamkan basirah, mutlak seseorang harus tobat secara sungguh-sungguh. (QS At-Tahrim [66]: 8).

Ketiga, menyisihkan hasrat dunia dengan tak tebersit untuk menabung banyak dosa dan maksiat. (QS Al-Hujurat [49]: 11).

Keempat, serius menjaga amalan wajib dan menghidupkan yang sunah (QS Thoha [20]: 90).

Kelima, menghidupkan waktu terutama di malam hari dengan banyak berzikir dan bermuhasabah. Siang banyak berbuat kebajikan dan malam tidak dihabiskan dengan tidur. "Sesungguhnya, mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat dengan ihsan. Di dunia, mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan, selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar". (QS Adz-Dzariyat [51]: 16-18).

Hal lain adalah menumbuhkan rasa takut terhadap hisab akhirat. Selain itu, perlu melatih ketekunan, kesabaran, dan kokoh terhadap gempuran godaan.

Dari titik inilah, seseorang secara perlahan akan memiliki ketajaman mata hati (basirah) sehingga amaliah dakwahnya akan senantiasa dinamis dan cerdas mencari kreativitas baru dalam berdakwah.

Contoh sosok yang memiliki basirah mengagumkan adalah Nabi Nuh AS. Di tengah penolakan kaumnya, ia tetap mencari terobosan baru dalam berdakwah. Ia tetap komit dan tegar, bahkan mencari alternatif sarana dakwah yang beragam sesuai dengan kondisi dan tuntutan kaumnya.

Red: Budi Raharjo
Rep: Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Rabu, 15 Desember 2010

Ya Allah ampuni aku

RABBIGFIRLII

Ya Allah ampuni aku...

Begitulah belasan kali mulut kita menggurimin (menggumam) mengucapkan kalimat
singkat tersebut dalam do'a kita didalam shalat. Namun saat kita ditanya:
"bagaimana jawaban Allah terhadap do'a kita tersebut?". Kita biasanya hanya bisa tersenyum kecut menjawabnya. Seakan-akan kita menyembunyikan sesuatu yang tidak jelas didalam jawaban kita itu. Sesuatu yang kita sendiri tidak yakin akan adanya jawaban Allah itu. Kita seperti berada di dalam dunia absurditas. Dunia antara ada dan tiada.

Karena belum puas berdo'a didalam shalat tersebut, makanya setelah shalat biasanya kita kemudian kembali berdo'a dan berdo'a dengan semangat empat lima untuk minta ampun kepada Allah. Kadangkala kita sebutkan satu persatu kesalahan dan dosa-dosa masa lalu yang mungkin pernah kita lakukan. Kita kadang juga merintih: "kalaulah tidak Engkau maafkan aku ya Allah, maka aku akan menjadi orang yang sangat merugi dan menderita...". Tidak jarang do'a minta ampun kita itu begitu panjangnya (lebih panjang dari durasi shalat kita), dan kadang
diiringi pula dengan deraian airmata kita yang membanjir. Semakin kita ingat akan dosa kita, biasanya sedu-sedan penyesalan kita juga akan bertambah hebat.

Kalau sudah begini, biasanya barulah kita "merasa" puas. Seakan-akan kita sudah curhat habis kepada Allah. Kita menganggap bahwa do'a kita itu sudah diterima oleh Allah. Apalagi setelah bertangis-tangisan itu ada segumpal rasa lega yang menggelayuti dada kita. Puas sekali rasanya. Makanya dimana ada pengajian atau Ustadz yang bisa membuat orang menangis seperti ini, biasanya akan dicari-cari orang. Sejauh apapun tempatnya, akan dijambangi orang dengan mata berbinar-binar. Ustadznyapun kemudian akan dielu-elukan dan dihormati orang dengan kadar yang lebih dari orang biasa. Bahkan tidak jarang kita minta do'a kepada sang Ustadz, seakan-akan kalau sudah dido'akan oleh Beliau semua urusan tentang kesalahan dan dosa-dosa masa lalu kita itu sudah selesai. Kita merasa sudah aman....

Namun saat kita kembali ditanya orang: "sebenarnya jawaban Allah atas do'a-do'amu yang berbalut oleh air mata tadi apa?". Jawaban kita mulai sedikit agak berbentuk. "Setelah menangis tadi, aku jadi puas..., aku lega..., aku tenang..., dsb...". "Lalu bagaimana...?". "Ya besok-besok, kalau ada acara yang sama aku ingin ikutan lagi", kata kita dengan raut wajah sumringah. Seakan-akan kalau kita berdo'a sendirian dirumah itu tidak afdal. Tidak keren.

Anehnya tidak lama berselang, sambil terheran-heran, kita tiba-tiba telah melakukan kembali dosa-dosa yang kemaren-kemaren kita minta ampunkan oleh Allah.
Dosa itu seperti terjadi begitu saja, walau kita tahu bahwa itu adalah dosa, dan kita telah minta ampun pula kepada Allah. Misalnya betapa sering kita kembali dan kembali bergunjing, berbohong, iri, dengki, bertengkar dan marah yang nggak karuan, sampai kepada perbuatan maksiat, mencuri, korupsi, setelah kita tadinya berdo'a dengan diiringi tangisan pula.

Lalu bagaimana ini ?. Apa yang terjadi dengan do'a-do'a kita kalau yang terjadi adalah seperti itu?. Sebenarnya jawaban Allah atas do'a kita diatas itu apa sih bentuknya?.

Mau tahu....?.

Rabbigfirlii..., ya Allah ampuni aku...

Kalau dalam mengucapkan kalimat diatas, keadaan atau suasana yang kita temui adalah yang seperti diatas, maka dengan terapi tertawa nggakak sampai keluar airmata juga akan sama hasilnya. Buat sesaat dada kita akan terasa lapang. Beban yang menindih dada kita rasa terlepas buat beberapa waktu. Ada rasa lega yang muncul. Hal seperti ini pernah saya lihat di discovery channel bahwa ada sekelompok orang yang sering berkumpul untuk "stress release" dengan cara mereka menciptakan suasana lucu sehingga pesertanya bisa tertawa terpingkal-pingkal.
Walaupun kadang tidak lucu, tapi kalau urat syaraf tertawanya sudah kena, maka mereka akan tetap tertawa terbahak-bahak. Kalau keadaannya seperti ini, namanya kita tengah mengolah dan memakasa otak kita agar otak kita ini percaya betul bahwa kita lagi senang, kita lagi gembira, atau kita lagi sedih, kita lagi menyesal, dan sebagainya.

Fitrahnya, otak kita ini kan tidak bisa membedakan apakah kita ini tengah berimajinasi, melamun, atau mengalami kejadian yang sebenarnya. Reaksi otak kita sama saja. Masalah ini akan saya bahas lebih lanjut dalam artikel "Suka-sukamulah". Apakah kita beragama atau tidak, otak kita tidak bisa membedakannya. Juga, sekresi hormon yang dikeluarkan oleh otak sama saja antara kita membayangkan sedang memakan jeruk nipis dengan sedang memakan jeruk nipis benaran. Kalau kita merasa punya dosa, lalu kita merintih dan menghiba-hiba
penuh penyesalan, maka otak kita akan meresponnya dengan mensecresikan hormon penyebab airmata kita keluar. Setelah kita menangis, otomatis hormon pembentuk rasa bahagia juga mengalir kedalam dada kita, sehingga beban yang selama ini ada didalam dada kita seperti menghilang. Lalu sejenak dua jenak kemudian mucul rasa senang dan bahagia didalam dada kita. Sehingga kita merasa bahwa apa yang kita lakukan barusan adalah sudah benar. Kalau tadinya kita merasa berdosa dan tertekan, setelah bedo'a, dan bertangis-tangisan itu kita merasa tenang dan bahagia, kita lalu merasa proses tobat dan rasa penyesalan kita itu sudah benar adanya. Raut wajah kita sumringah, mata kita berbinar. Kitapun dengan bangga
berkata bahwa apa yang telah kita lakukan itu sudah benar adanya.

Akan tetapi sayangnya rasa puas dan bahagia seperti itu tidak bisa bertahan lama. Tidak berapa lama kemudian kita sudah lupa kembali. Begitu sebuah keadaan yang sangat mendukung kita untuk berbuat buruk seperti sebelumnya muncul, maka kitapun dengan mudahnya akan kembali melakukan berbagai perbuatan buruk seperti sebelum-sebelumnya itu. Lho..., tiba-tiba saja kita sudah terpuruk kembali melakukan perbuatan nestapa. Rasa bersalah kita kembali mengharu biru.

Inilah salah satu jebakan atau hijab yang sangat halus kalau kita dalam beragama ini semata-mata hanya berpedoman kepada proses olah otak atau olah pikir saja dan olah tubuh semata, walau didalamnya ada perubahan-perubahan fisik dan kejiwaan yang mengikutinya.

Alhamdulillah..., sepengalaman saya, islam telah memberikan kemudahan yang amat sangat kepada siapapun yang mau mencobanya untuk bisa terbebas dari segala duka nestapa akibat rasa bersalah dan rasa berdosa atas perbuatan buruk yang pernah dia lakukan dimasa lalu. Proses itu begitu sederhananya, yaitu sebentuk do'a pendek yang selalu kita ucapkan dalam posisi duduk diantara dua sujud. Do'a itu adalah: "Rabbigfirlii..., ya Allah ampuni aku...". Sangat-sangat sederhana.

Dalam kalimat yang sangat sederhana ini, kita tidak perlu sekelebatpun untuk mengingat-ngingat berbagai kesalahan dan dosa-dosa masa lalu yang pernah kita lakukan. Sebab begitu kita mengingat berbagai kesalahan dan dosa kita itu, biasanya objek fikir dan kesadaran kita akan berpindah kembali kepada kesalahan demi kesalahan kita itu. Begitu kita ingat sebuah kesalahan dan dosa yang dulu pernah kita lakukan, maka secara otomatis suasana saat kita sedang melakukan kesalahan dan dosa itu akan di recall kembali dari memori kita. Kesalahan dan dosa itu seperti baru saja kita lakukan dan menyata kembali. Namun pada saat yang sama rasa takut kita akan hukuman dan siksaan dari Allah atas dosa dan kesalahan itu juga meningkat, sehingga perasaan kita seperti terombang ambing tak menentu. Dada kita seperti ditekan dari atas dan dari bawah. Ilmu kita (olah pikir) mengatakan itu dosa, tapi suasana jiwa kita terlempar keruangan masa lalu yang penuh dosa yang kita ingat kembali. Suasana seperti ini membuat kita seperti orang dengan kepribadian ganda. Sehingga kita sering dipanggil sebagai TOMAT BALI, habis (TO)bat ku(MAT) kem(BALI). Tersiksa sekali sebenarnya.

Namun, kalau membaca Rabbigfirlii itu kita lakukan dengan positioning yang tepat, maka hasilnya akan sangat berbeda. Proses positioning itu adalah sebagai berikut:

• Pertama proses persiapan. Ketika sujud.

Saat sujud sebenarnya rohani kita sedang berada pada posisi yang sangat rendah dihadapan Allah. Kalau positioning kita tepat, maka Rohani kita dipegang oleh Allah. Akan muncul suasana kerendahan rohani kita dihadapan Allah. Kerendahan rohani itu bukanlah hasil dari sebuah olah fikir dan olah emosi. Yang kita dapatkan itu adalah keadaan rendah yang dituntun, rendah yang bersuasana, rendah yang diperjalankan. Pada saat yang samapun kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa kita sedang berjumpa dengan Sang Maha Tinggi.

Biasanya sujud kita yang seperti ini akan menjadi lama. Kita tidak rela buru-buru untuk duduk. Karena saat itu rohani kita tengah duduk pada posisinya yang sebenarnya, yaitu posisi yang selalu ingin merendah, meringkuk, dipegang dan dituntun oleh Allah. Saat sujud itu kita biarkan rohani kita berserah total kepada Allah. Suasananya seperti orang yang sedang bergantung dan kita tidak ingin gantungan kita itu copot. Posisi seperti orang yang sedang terpesona dan kita tidak ingin keterpesonaan kita itu copot. Tidak jarang muncul sedikit suara
menggeram halus yang keluar bersamaan dengan keluarnya nafas kita. Itulah suara rohani kita. Sungguh suasana yang sangat pribadi sekali.

Setelah itu dari "DALAM" akan mengalir daya yang begitu halus yang merambat dan menyentuh pita suara kita sehingga kemudian membentuk bunyi dalam bentuk bahasa
manusia.

"Subhanarabbial a'la wa bihamdihi...", ungkap kita dengan suara berbisik yang sangat santun dan lirih.
"Sungguh hamba bersaksi akan kemahasucian Allah, Sang Maha Tinggi".

Ungkapan kita itu adalah sebentuk pernyaan persaksian rohani kita atas sebuah kebenaran tentang Allah. Sungguh benar hadist Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa saat yang paling dekat seorang hamba dengan Allah adalah saat sujud itu.
Sungguh ucapan pujian kita itu bukan hanya ungkapan sekedar pemanis lidah saja.
Tapi sebuah kebenaran yang menyata.

Sampai pada saatnya, suasana itu akan berakhir dengan sendirinya. Muncul suasana seperti selesai. Dess begitu...!. Dengan itu kita seperti dipersilahkan oleh Allah sendiri untuk duduk iftirasy.

"Ya... sudah wahai hambaku..., sekarang tenanglah".
"La Khaufun..., janganlah takut..., LaTahzan..., janganlah khawatir dan bersedih hati. Ada Aku yang akan menjagamu...". Sangat pribadi sekali suasananya.

Ketika kita dijaga oleh seorang pengawal pribadi saja rasanya begitu nyaman dan tenang, masak sih SAAT dijaga dan dituntun oleh Allah tidak ada rasanya sama sekali. Kelewatan sekali memang membatunya hati kita ini.

CATATAN: Akan tetapi kalau prosesi perendahan rohani kita dihadapan Allah ini tidak sampai tuntas, artinya sujud itu kita lakukan secara cepat dan sekelebatan saja, maka rohani kita seperti terlempar di kegersangan gurun pasir. Rohani kita menggelepar kehausan dan merintih dengan memilukan. Akibatnya pun segera akan terasa. Sujud kita itu jadi hambar dan itu akan berpengaruh pula pada perilaku dan perbuatan kita selanjutnya. Kita akan menjalani hari-hari kita dengan kegersangan dan kegaringan perilaku pula. Perilaku orang-orang yang hatinya
telah membatu dan mati kata Al Qur'an.

Nah..., dalam keadaan rohani yang masih bening seperti itu, barulah kemudian kita duduk IFTIRASY untuk bermohon kepada Allah. Kita bermohon pertolongan Allah atas hal-hal terpenting yang kita perlukan didalam hidup kita.

Rabbigfirlii..., Duhai Allah..., ampunilah hamba....

Dalam keadaan rohani seperti diatas, ungkapan permohonan ampun kita ini terasa begitu dalam. Begitu menghunjam menembus kedalaman rohani yang tak terbatas.
Setelah ucapan itu kita tinggal duduk diam sejenak untuk menunggu Allah memproses jawaban-Nya atas do'a minta ampun kita itu. Kita jangan buru-buru untuk pindah mengucapkan do'a yang berikutnya. Diamlah sejenak.

Dalam sehirupan nafas kemudian, akan ada daya lembut yang turun membasuh rohani kita. Rohani kita seperti di celup (di shibgah) oleh daya yang turun tersebut.
Segala beban rohani kita tercabut sampai keakar-akarnya. Dalam sehirupan nafas berikutnya, daya itu seperti diambil kembali oleh Allah dengan membawa serta semua beban, rasa bersalah, rasa berdosa yang tadinya ada dalam rohani kita.
Yang tersisa kemudian hanyalah sebentuk rohani yang begitu lapang, tenang dan bening. Rohani yang pekat dengan rasa diampuni.

Munculnya rasa diampuni inilah jawaban Allah yang sangat jelas bisa kita rasakan. Andaikanlah kita bersalah kepada seorang yang jauh lebih kuat dari kita. Kita merendah mohon ampun kepadanya. Kita menunggu-nunggu jawaban orang tersebut atas permintaan maaf kita. Begitu orang tersebut memberi kita maaf. "Ya sudah..., kamu saya maafkan". Alangkah lega rasanya dada kita ini. Masak jawaban Allah tidak punya bekas sedikitpun bagi kita. Sunguh benarlah kata Al Qur'an bahwa untuk bisa membaca bahasa Allah itu memang perlu rohani yang bening dan lapang. Bukan rohani yang keras membatu dan mati.

Dan yang sangat-sangat mencengangkan sebenarnya adalah, ketika kita dikemudian hari dihadapkan pada keadaan dimana 100 % atau bahkan lebih kita sangat-sangat punya kesempatan untuk melakukan keburukan yang sama dengan yang pernah kita lakukan dulu, namun anehnya tidak sedikitpun muncul rasa kita ingin kita untuk kembali melakukan perbuatan buruk itu. Kita seperti dihalangi Allah oleh untuk berbuat buruk itu. Yang namanya tidak ingin, walau kesempatan untuk itu sangat ada, ya..., kita tidak capek dan lelah sedikitpun.

Inilah sebagai tanda bahwa do'a kita: rabbigfirly..., dikabulkan oleh Allah. Dan ini akan sangat sesuai dengan Al Hadist. Bahwa salah satu syarat dari "taubatan nasuha" itu adalah kita tidak lagi melakukan kejahatan yang pernah kita lakukan dulu setelah kita bertaubat.

Dan ternyata ketidakmauan kita untuk melakukan ulang perbuatan buruk itu bukanlah sebagai hasil dari rekayasa fikiran dan rekayasa emosi kita sendiri.
TIDAK sama sekali. Tapi itu adalah atas ampunan Allah dengan cara Allah mencabut sendiri keinginan berbuat buruk itu dari rohani kita. Proses itu berlangsung dengan tanpa daya dan tanpa usaha kita sedikitpun.

Begitulah cara Allah menjawab dan mengabulkan do'a kita. Rabbgigfirlii..., DERR.

Subhanallah..., sungguh Rabbigfirlii adalah sepenggal kalimat sederhana, namun dulu begitu sering terlontar dari celah bibir manusia agung, Muhammad Salallaahuu `alaihii wa sallaam dan para sahabat-sahabat terpilih Beliau.

________________________________________________________________________
CATATAN: Kenapa hanya para sahabat yang terpilih?. Jawabnya juga sederhana saja.
Andaikan posisi rohani semua sahabat yang hidup sesudah wafatnya Rasulullah adalah tepat, maka tidak akan ada pembunuhan Usman bin Affan, tidak akan ada pembunuhan Ali bin Abi Thalib, tidak akan ada pembunuhan cucu-cucu Beliau yang sangat Beliau sayangi Hasan dan Husein, tidak akan ada perang Shiffin, tidak akan ada Syi'ah dan Sunni berikut dengan segala variannya. Tidak akan ada !.
Tidak ada penggolongan-penggolongan islam. Islam ya Islam. Titik. Karena memang pada saat posisi rohani kita berada didalam "Rumah" yang sama. Semua adalah satu. Karena memang semua berasal dari RUH yang satu. RUH Milik Allah.

Sementara kalau kita berada didalam "Rumah Pikiran", maka keramaian dan keriuhrendahanlah yang akan tercipta. Kita menjadi tanah-tanah yang selalu ramai dan ribut dengan berbagai perselisihan dan pertentangan pikiran dan persepsi.

"Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan
kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus", (Al Baqarah 213).
_______________________________________________________________________


Dan kalimat Rabbigfirlii itu ternyata akan mengantarkan siapapun yang membacanya (pada posisi rohani yang TEPAT) untuk menjemput celupan daya pengampunan total dari Allah.
Setelah itu barulah kita ungkapkan bait do'a iftirasy berikutnya...,
Warhamnii..., sampai celupan Rahmat Allah yang kita mohonkan itu turun membasuh
rohani kita dan setiap DNA kita.

Lalu adakah yang lebih baik dari Shibgah Allah (SHIBGATULLAH) ...?.

Rabbigfirlii..., rabbigfirlii..., rabbigfirlii... DERR.

SELESAI....

Wallahu a'lam..
Deka
Jalan Kabel no 16, Cilegon
Jam 10:30, Hari 5, bulan 4, tahun 2010

Senin, 13 Desember 2010

Cahaya di atas Cahaya

Cahaya Diatas Cahaya.

Ittaquu firasatal mukmin, fa innahu yandhuru binurillah : Percayalah dengan Firasat orang beriman, karena Ia melihat dengan Cahaya Allah. ( Al hadist )


Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.( QS. An Nur, 24: 35)


Inilah dasar pengajaran spiritual yang sesungguhnya, digambarkan sebagai Cahaya Tuhan yang menyinari jiwa manusia. Spiritual bukan kajian ilmiah diUniversitas atau Pondok Pesantren (Ma'hat) sebagaimana biasanya kita kenal. Dalam hal ini, Allah menjelaskan proses pengajaran dan bimbingan-Nya melalui perumpamaan Myskat. Yang didalamnya terletak sebuah pelita yang tertutup kaca. Cahaya-Nya terkumpul dalam cerukan dinding yang berlubang, merupakan perumpamaan dada manusia yang dipenuhi Cahaya Allah. Dengan Cahaya itulah manusia mampu menangkap dengan jelas bimbingan Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Cahaya ini tidak dapat diperoleh dari mendengarkan pengajian dan mengumpulkan data ilmu pengetahuan yang tercatat dalam kitab-kitab. Itu hanya petunjuk awal untuk memahami bagaimana orang bersikap dan belajar menerima bimbingan Allah secara ruhani.


Kitab Suci Al qur'an merupakan "Peta Ruhani" dan petunjuk bagi pejalan menuju Tuhan. Yang didalamnya dijelaskan mengenai pengajaran yang dapat diterima secara langsung dalam jiwa manusia. Sikap ini dikenal dengan istilah ihsan, yaitu menyadari Tuhan melihat sikap dan tindak tanduk hati manusia. Tuhan tidak hanya terbatas mengamati perilaku kita dan hanya berdiam diri. Akan tetapi Tuhan Yang Maha Hidup memberikan pengajaran kepada jiwa manusia yang percaya dan yakin atas keberadaan Tuhan. Disebutkan dalam Al qur'an Tuhan ada, namun keberadaan-Nya tidak bisa ditangkap oleh penglihatan dan pikiran manusia. Ia ada sangat dekat dengan jiwa manusia, sehingga apa yang dibisikkan dalam hatinya terdengar dengan jelas, karena Ia Maha Mendengar. Tidak Hanya sampai disini penjelasan mengenai Tuhan, dengan tegas Al qur'an mengatakan bahwa Tuhan akan merespons setiap do'a bagi yang berdo'a. Inilah yang dinamakan sikap ihsan atas keberadaan dan kegiatan Tuhan terhadap manusia. Maka dengan demikian, pemahaman atas Tuhan dengan segala keadaan-Nya disimpulkan dalam bentuk sikap yang sederhana berikut ini :


Duduklah dalam keadaan bersih lahir maupun bathin, tinggalkan kegiatan lahir yang berasal dari nafsu. Aktifkan ruhani anda, karena Tuhan tidak bisa dijangkau oleh pikiran dan penglihatan kita. Setiap manusia pasti memiliki jiwa, dengan jiwa inilah manusia dapat berkomunikasi dengan Allah. Dan kepada jiwa manusia, Allah menuntun kegiatan Ruhani menuju pengetahuan-Nya berupa ilham. Pengetahuan ruhani dapat anda rasakan secara langsung tanpa hijab. Anda akan merasakan setiap tuntunan itu mengarah kepada kebaikan dan kebahagiaan sejati. Lihatlah hasilnya dalam Al qur'an yang menjelaskan mengenai pengalaman pengajaran spiritual dalam diri anda. Anda akan diajak berada dalam keadaannya, bukan dalam pengetahuan berupa pikiran anda. Anda akan berada (being experience) yang tidak bisa diungkapkan dalam kata dan artikulasi. Sebagaimana anda merasakan berada dalam keadaan rasa cinta yang sejati.


Allah berkata : Jika kita menyebut nama-Nya didalam jiwa dengan merendahkan diri dan penuh hormat. Maka akan diturunkan rasa tenang mengalir dalam jiwa anda. Jika anda mengalami keadaan ini, berarti anda memahaminya secara nyata dalam jiwa anda, bukan dalam pikiran anda. Allah Yang Maha Hidup selalu merespons apa yang kita lakukan dihadapan-Nya. Jika kita hadir Allah juga hadir, jika kita berkata Allahpun berkata dalam bahasanya yang dipahami oleh Jiwa. Lakukan seperti dibawah ini :


Allah berfirman :


.....barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.( QS. Ath Thalaq,65:2-3)


Pernahkan anda merasakan apabila ada kesulitan kemudian berdoa dan bertawakkal kepada Allah, kemudian langsung anda rasakan jawabannya dan mendapatkan jalan keluar ? Bahkan mendapatkan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Jika semakin buntu (tidak ada jalan keluar) apa yang anda lakukan ketika melakukan komunikasi kepada Yang Maha mengetahui segala urusan. Sudahkah anda menundukkan jiwa anda kemudian berserah total dan memahami apa yang diturunkan kedalam jiwa anda ? Sebab Allah memberikan jawaban dalam setiap doa langsung kedalam hati orang beriman. Jika tidak ada jawaban, pasti ada yang salah dalam hal ini. Karena tidak mungkin Allah mengingkari janji (laa tukhliful mi'aad). Untuk itu, perlu dilakukan pemahaman lebih dalam persoalan kepercayaan kita kepada Allah, terutama bagaimana menangkap signal atau getaran yang dapat dipahami. Mungkinkah orang biasa seperti kita bisa menerima petunjuk Allah, seperti apakah keadaan yang akan kita rasakan ?


Duduklah dengan penuh taqwa dan percaya serta mewakilkan (menggantungkan) segala hidupnya kepada Allah saja. Hadirlah dihadapan-Nya dengan tunduk dan hormat, hilangkan keraguan dalam hati. Sebutlah Nama Allah dengan penuh harap, sehingga terasa hening dalam jiwa anda. Rasakan keheningan yang diturunkan dalam hati anda, semakin lama akan terasa bening dan menenangkan. Tundukkan jiwa anda semakin dalam , biarkan lintasan pikiran yang sesekali muncul menggangu. Jangan perdulikan, tetapkan jiwa anda mengamati keheningan jiwa anda. Dan berusahalah tetap menyebut Nama Allah sampai pada tahapan anda mampu membedakan pikiran, emosi, perasaan dan ilham yang datang sangat cepat dan jelas. Biasanya muncul petunjuk pada saat pikiran anda tidak terlibat, nafsu dan emosi kita tersapih. Petunjuk datang bukan hasil rekayasa dan hayalan atau rangkaian peristiwa dalam memori dalam otak. Ia menelusup sangat cepat dan jelas, dan rasanya seperti sudah berada pada keadaan yang akan terjadi. Anda diberi kepahaman langsung kedalam jiwa anda, cirinya tidak ada keraguan. Sebab ia datang berupa keadaan seperti yang akan terjadi sebelum terjadi. Mengapa demikian ? Karena anda berada pada orbit jiwa yang tidak terikat oleh ruang dan waktu Anda telah terlepas dari ikatan tubuh yang memilki arah dan jarak. Jiwa anda bukan badan ini, yang terikat oleh putaran bumi dan orbit matahari. Sehingga terjadi waktu akan datang dan masa lampau. Beradalah dalam jiwa anda dan mendekatlah kepada Allah, anda akan merasakan petunjuk semakin jelas.


Malang, Thursday, 25 November 2010 00:36

Written by Abu Sangkan

Minggu, 12 Desember 2010

Kisah Qurban Bu Sumi

Menitikkan Air Mata Membaca Kisah Qurban Bu Sumi (Cerita pedagang hewan Qurban)
By Nandang Alik Today at 9:51pm

Kisah ini terjadi ± tahun 1995, sudah cukup lama memang, namun setiap ingin memasuki Idul Adha saya selalu teringat dengan kejadian yang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini saya tidak pernah melupakannya.

Awalnya saat saya sedang menjajakan dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yang terjual, tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya sudah puluhan ekor lakuterjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 hari lagi).

Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang berbincang salah seorang teman mengajak sayauntuk sholat ashar dan saya pun bersama teman saya berangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat kami berjualan. Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa. Untuk saat ini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku (habis terjual).

Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat kami jualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualan banyak sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana kesibukan demi melayani calon pembeli.

Akhirnya saya dan teman saya berlari untuk cepat membantu melayani teman kami. Alhamdulillah pada saat itu sudah ada yang membeli beberapa ekor kambing. Terima kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami, Syukur saya dalam hati.

Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal, saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan dagangan kami, seingat saya ibu ini sudah lama berada disitu, pada saat kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanya memperhatikan kami bertransaksi.

Saya tegur teman saya Ibu itu mau beli ya ? dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya dari tadi udah ada disitu. Kayaknya Cuma liat-liat aja, mungkin lagi nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu itu berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya) kalau dilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu ingin berqurban.

Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan.
"Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?".

Tanpa menjawab pertanyaan saya, ibu itu langsung menunjuk, "Kalau yang itu berapa bang ?" Ibu itu menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. "Kalau yang itu harganya Rp. 600.000,- bu", jawab saya.
"Harga pasnya berapa bang ?,
"Gak usah tawar lagi yabu... Rp. 500.000 deh kalau ibu mau".
Fikir saya memang dari harga segitu keuntungan saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini.
"Uang saya Cuma ada 450 ribu, boleh ga".

Waduh... saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. Biarlah mungkin ini jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu untuk berqurban. Sepakat kami berempat.

"Tapi bawa sendiri ya.. ?" akhirnya si ibu tadi bersedia, tapi dia minta diantar oleh saya dan ongkos bajaj-nya dia yang bayar dirumah.

Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu itu langsung pulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat.

Ketika sampai di rumah ibu tersebut.
Subhanallaah..... Astaghfirullaah.....Alaahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badan saya demi melihat keadaan rumah ibu tersebut.

Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya) dan satu orang anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela dari kawat. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh. Diatas divan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalam kondisi sakit.

"Mak ... bangun mak, nih liat Sumi bawa apaân" (oh ternyata ibu ini namanya Sumi),
perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar.

"Ini ibu saya bang".... ibu itu mengenalkan orang tuanya kepada saya.

"Mak Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak".

Orang tua itu kaget namun dari wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, "Alaahu Akbar... Alhamdulillaah... akhirnya kesampaian juga emak qurban".

"Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buat qurban ibu saya".

Aduh GUSTI....... Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman.

Seperti bergetar bumi ini setelah mendengan niat dari ibu ini. Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Saya langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.

"Bang nih ongkos bajajnya.!", panggil si Ibu,
"Sudah bu cukup, biar ongkos bajaj saya yang bayar".

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah, karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan saya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

Bagaimana dengan kita?

(Dari Bp Taufik Muhammad)

Sabtu, 11 Desember 2010

Harga Sebuah "Passion"

Harga Sebuah 'Passion'

"Live with passion!" (semboyan Anthony Robbins, motivator dunia)

Rekan-rekan, saya baru saja menonton sebuah film dokumenter luar biasa yang menjadi topik hangat dalam pembicaraan di Sundance Film Festival baru-baru ini, yakni The Cove. Film ini menceritakan perjuangan seorang pelatih lumba-lumba terkenal, Richard O'Barry dalam upayanya menyelamatkan nasib ribuan lumba-lumba yang ditangkap lantas dibantai di Jepang. Bahkan, menurut statistik, sekitar 23,000 ekor lumba-lumba dibunuh di Jepang, setiap tahunnya. Salah satu lokasi yang menjadi pusat perhatian dalam film ini adalah kota Taiji, Jepang. Dalam film yang amat mengerikan ini, dengan kamera yang diambil secara diam-diam, digambarkan bagaimana para nelayan menangkap, menggiring, lantas menikam satu demi satu lumba-lumba yang ada, dalam keadaan hidup-hidup.

Yang menarik, si tokoh utama dalam film dokumenter ini yakni Richard O'Brian, merupakan salah satu sosok yang dulunya, pernah menangkap dan mempopulerkan film 'The Flipper' yang membuat lumba-lumba terkenal, hingga banyak ditangkap untuk menjadi bahan tontonan karena kecerdasan mereka. Setelah bertahun-tahun mengajari para lumba-lumba, dan puncaknya adalah ketika para lumba-lumbanya justru 'bunuh diri' di depan matanya. Akhirnya, Richard O'Brian pun menyesal dan mulai sadar bahwa lumba-lumba bukanlah bahan tontonan, apalagi bahan 'makanan' seperti yang dipopulerkan di Jepang.



Sebuah Passion

Sosok diri Richard O'Brian memang sosok yang amat menarik, khususnya jika dilihat dari upayanya untuk menjadi aktivis lingkungan. Sampai-sampai ia rela ditangkap, dipenjarakan bahkan diusir karena semangatnya untuk menyelamatkan lingkungan. Hal ini pun mengingatkan saya pada diri seorang aktivis bernama Julia Butterfly Hill yang akhirnya mampu tinggal selama 738 hari di atas pohon demi menyelamatkan pohon-pohon tua jenis Redwood yang akan dipotong untuk keperluan pembangunan.



Apapun yang dilakukan oleh O'Brian maupun Julia, mereka merupakan sebuah contoh yang menarik dari sebuah semangat (passion) yang luar biasa. Dimulai dengan gol sederhana yang ingin mereka capai, lantas merekapun berusaha 'mati-matian' untuk mewujudkan goal tersebut. Kata 'mati-matian' disini, bukanlah hanya kata kiasan belaka. Sebab, mereka tahu pasti bahwa risiko mereka dibunuh adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi, karena menghalangi kepentingan kelompok tertentu. Bahkan dalam wawancaranya dengan New York Magazine, O'Brian memahami bahwa dirinya mungkin saja menjadi target pembunuhan dari para Yakuza di Jepang yang, menurutnya, turut mendapatkan keuntungan dari pembunuhan ribuan lumba-lumba setiap tahunnya di Jepang. Namun, semangat mereka untuk mewujudkan prinsip-prinsip yang mereka perjuangkan, betul-betul membuat mereka bersedia mengorbankan apapun demi melihat impiannya terwujud. Inilah sebuah 'passion' yang luar biasa.

Mercu Suar Berumur Banyak

Rekan rekan yang budiman,

Judul diatas saya buat "berumur banyak", bukan tua, karena banyak yang sudah berumur banyakpun masih berjiwa muda serta bergaya seperti anak muda....

Tiga tahun sebelum expired (alias pensiun) , saya mulai mempersiapkan calon calon pengganti. Sikap ini bertentangan dengan sikap sementara orang, yang beranggapan bahwa mempersiapkan pengganti sebelum pensiun, akan menutup kesempatan dirinya untuk diperpanjang oleh perusahaan……

Banyak juga orang yang tidak mempersiapkan successor karena tidak terpikirkan (akibat kesibukan sehari hari). Sebagai profesional, seharusnya karyawan yang mau pensiun bertanggung jawab untuk membina “pewaris”nya.



Buat rekan rekan yang calon “purnawirawan”……ada beberapa tips yang ingin saya share:

1. Hindarkan situasi yang menempatkan diri kita di area “surprise”. (“Lho, kok aku sudah pensiun ya….mau ngapain lagi…??”). Jangan biarkan situasi yang mengontrol hidup kita, tapi kita yang menentukan arah kehidupan kita. Minimal 5 tahun sebelum berumur 55 thn, mulai pikirkan, apa yang akan dilakukan setelah pensiun. Kalau bisa mulai kembangkan sumber penghasilan lain yang bukan hasil korupsi maupun hal yang merugikan perusahaan. Libatkan istri, saudara, bila diperlukan.

2. Laksanakan Succession Planning. Siapkan pengganti yang qualified demi kelangsungan proses kerja diperusahaan disaat kita tinggalkan. Act-lah sebagai profesional.

3. Belum terlambat untuk mengembangkan diri untuk menguasai satu atau dua keahlian khusus untuk bekal paska pensiun. Jangan pernah berhenti untuk belajar-mengajar, belajar-mengajar….dan terus belajar-mengajar selama jantung masih berdetak. Banyak manfaatnya untuk membantu orang lain berkembang, baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri.

4. Hindari sikap yang bertumpu pada kekuasaan, karena sifatnya sementara. Selain itu, ‘rasa berkuasa’ hanya akan menambah beban disaat pensiun (post power syndrome). Terlalu banyak energi yang habis untuk menjadi orang yang 'sok kuasa'.

5. Sadari bahwa pensiun adalah hal yang wajar, bukan untuk ditakuti tapi untuk disambut dengan jiwa besar, penuh optimisme, dan tentunya juga dengan persiapan.(masih ingat resep sukses? Sukses terjadi bila persiapan bertemu kesempatan…).

6. Jaga hubungan baik yang tulus dengan sebanyak mungkin orang(Networking). Hidup saling membantu akan membuahkan hasil buat semua pihak.

7. Kalau ada Dana Pensiun, agar dikelola dengan hati hati. Tidak disarankan untuk membagi harta, termasuk dana pensiun kepada anak anak, selama kita masih hidup. Sudah banyak contoh dimana cara itu kurang baik untuk orangtua maupun anaknya.
Buat karyawan yang sudah hampir pensiun dan belum sempat
mempersiapkan diri, jangan kuatir....minimal, dana pensiun bisa dipakai untuk
modal. Kalau tidak ada dana pensiun, pikirkan skill yang dikuasai dengan baik
dan kembangkan terus, sambil mencari peluang. Never Feel Too
Old

Buat karyawan yang mah mempunyai beberapa tahun menjelang pensiun, ada
baiknya mulai mempersiapkan diri dengan beberapa point diatas.

Buat karyawan yang masih muda......Never Feel Too Young for higher position.....!! Grab the chance at earliest possible time....!! Dana pensiun ditentukan oleh gaji terakhir. Jadi, bekerja keraslah untuk melipat gandakan dana pensiun anda....!!

Best regards,
Eka Wartana

Pria Berencana Tuhan Tertawa

Pria Berencana Tuhan Tertawa


"Punya anak dan punya status ayah mudah, tetapi menjadi ayah sungguh tidak mudah."
(Wiljelm Busch)

Sebagai orang tua tunggal yang punya hak penuh mengasuh dua anak kecil, hidupku sibuk. Kadang-kadang aku sampai kewalahan. Aku mengajar di universitas, pulang ke rumah, memasak, membersihkan rumah, mencuci, membacakan cerita, dan bermain dengan kedua anakku. Sebagai laki-laki, aku harus belajar mengerjakan semua hal yang biasa dikerjakan kaum wanita.

Lebih dari itu, karierku sebagai pelatih dan penceramah menanjak secepat roket. Aku diundang berceramah di mana-mana, kesempatan datang berlimpah-limpah. Menyeimbangkan semua tanggung jawab itu membuatku sangat stres. Tapi aku sudah membuat komitmen pada diriku sendiri untuk menjadi yang terbaik. Guru terbaik, penceramah terbaik, dan yang paling penting, ayah terbaik.

Tanggung jawab di tempat kerja sangat membebaniku, dan penghasilan yang terbatas sulit menolak tawaran-tawaran untuk berceramah. Apakah berceramah di perusahaan besar, di sekolah desa, atau di perkumpulan tertentu, nyatanya aku tidak bisa menolak kemungkinan untuk memperoleh penghasilan tambahan. Ringkasnya, aku selalu sangat sibuk setiap hari.

Waktu itu pagi hari di musim dingin yang khas Cleveland, langit kelabu dan angin dingin menusuk tulang. Aku harus menyiapkan anak-anak sebelum mereka dititipkan ke nursery school (tempat penitipan anak), memastikan pengasuh mereka datang hari itu dan aku harus berkemas untuk bepergian dan bergegas-gegas agar tidak ketinggalan pesawat. Aku kalang kabut. Anak-anak yang bisa mengendus keteganganku seperti ‘ikan hiu mengendus bau darah', mulai rewel, bertengkar, merengek-rengek untuk menarik perhatianku dan membuatku tak bisa membereskan apa-apa. Akhirnya, kesabaranku habis. Aku kehilangan kendali dan membentak mereka. Yah... aku berteriak-teriak dengan wajah merah padam. Pengasuh anak-anakku membuang muka, merasa tidak enak. Anak-anakku menangis. Aku mencoba mencium wajah mereka yang basah dengan air mata, mengucapkan selamat tinggal. Anak perempuanku mendorongku menjauh, anak laki-lakiku berdiri tegak, kaku dan marah sekali. Merasa frustasi, aku mengangkat bahu tak peduli. Aku ngebut ke bandara, menembus salju dan hujan yang dingin membeku.

Dengan marah dan gugup karena kuatir ketinggalan pesawat, aku menganalisa sikapku tadi dan membenarkannya. "Aku bekerja keras sekali untuk anak-anak itu! Apakah mereka menghargaiku? Tidak!" Hatiku sesak, aku kasihan sekali pada diriku sendiri.

Aku memarkir mobil kemudian menyeret koperku ke konter check in, bergegas ke gate lalu naik ke pesawat. Cuaca yang suram membuat hatiku semakin keruh. Suasana hatiku bercampur aduk antara marah karena merasa tindakanku benar, dan merasa bersalah karena telah membentak anak-anakku.

Hal yang lebih buruk sudah menunggu. Pesawat yang kutumpangi sudah tua. Kami lepas landas menembus badai es yang mengamuk, meninggalkan Cleveland menuju Detroit. Di sana aku akan memberikan loka karya. Ketika pesawat naik menembus awan dan terguncang dalam arus udara yang tidak menentu, rasa bersalahku semakin besar. Bagaimana mungkin aku meninggalkan anak-anakku seperti tadi?

Seorang pramugari berjalan di antara dua deretan kursi sambil membawa nampan penuh minuman ringan. Tiba-tiba terdengar bunyi berdebum keras; BUUMM!!!! Udara di dalam kabin sepertinya tersedot sepanjang lorong di antara deretan kursi, seperti pusaran angin puyuh. Masker oksigen terlontar dari tempat penyimpanannya di atas kepala penumpang dan terayun-ayun di depan kami seperti tangan pencabut nyawa. Sebuah pintu tiba-tiba lepas dan kami berada dalam suasana tegang. Pesawat berada kira-kira sebelas ribu kaki di atas danau Erie yang beku.

Pesawat miring tajam lalu menukik dengan cepat. Aku memandang keluar jendela dan melihat permukaan beku danau Erie. Kami menukik tajam ke permukaan danau itu. Aku yakin, kami semua pasti mati. Aku mendongak dan melihat pramugari mencoba membuka pintu kokpit, tetapi pintu itu melengkung karena tekanan udara yang tersedot keluar sangat kuat. Intercom yang menghubungkan kabin dengan kokpit juga tidak berfungsi. Mereka tampak panik. Inilah saatnya, pikirku, aku pasti mati.

Ketika itu, seluruh hidupku tidak melintas di benakku. Hanya ada dua pikiran di kepalaku. Pertama, karena aku belum meyiapkan surat wasiat, menurut hukum negara bagian Ohio anak-anakku akan kehilangan setengah hak warisan mereka. Kedua, kenangan terakhir mereka akan ayahnya adalah lelaki berwajah merah padam yang berteriak-teriak memarahi mereka. Aku sangat menyesal. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka seperti tadi? Pikirku dengan penyesalan yang sangat dalam.

Aku mulai berdoa, sementara pesawat terus menukik dan semakin dekat ke permukaan Danau Erie. "Ya Tuhan," aku berdoa, "jika Engkau selamatkan kami semua, sekali ini saja, aku berjanji tidak akan meninggalkan rumah sambil marah-marah. Aku berjanji akan membuat anak-anakku selalu ingat bahwa aku sangat mencintai mereka dan bahwa mereka sangat berharga bagiku."

Aku tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu sejak pintu pesawat tiba-tiba lepas sampai pesawat tiba-tiba terbang mendatar lagi -rasanya lama sekali- tetapi kejadiannya tepat ketika aku selesai berdoa. Aku tak tahu apakah aku berdoa dua puluh kali atau hanya sekali, tetapi aku yakin doaku dikabulkan.

Pesawat kami berputar lalu terbang kembali ke Cleveland. Kami semua turun lalu naik pesawat lain yang sejenis, yang membuat kami tetap cemas. Akhirnya kami mendarat di Detroit dan aku memberikan pelatihan di sana. Ironisnya, topik pelatihanku adalah "Mengatasi Stres." Sigmud Freud berpendapat, topik yang dapat kita ajarkan dengan sangat baik adalah topik yang sebenarnya harus kita pelajari. Hari itu, kata-katanya terbukti benar.

Catatan akhir dari kisah ini adalah aku menepati janjiku. Ketika kembali ke Cleveland, hal pertama yang kulakukan adalah meminta maaf pada anak-anakku dan memeluk mereka erat-erat. Kemudian aku pergi ke notaris dan membuat surat wasiat. Sejak itu, sebelum meninggalkan rumah, meskipun hanya ke tempat kerja aku selalu mengungkapkan cintaku kepada anak-anakku. Sebelum melakukan perjalanan jauh dan lama, aku selalu mengucapkan kata perpisahan kepada mereka di ambang pintu. Kira-kira begini bunyinya, "Ayah ingin kalian tahu bahwa Ayah mencintai kalian, dan akan selalu mencintai kalian. Ayah selalu bangga dan bahagia menjadi ayah kalian. Kadang-kadang Ayah marah pada kalian karena perbuatan kalian, tetapi tak ada yang bisa membuat Ayah berhenti mencintai kalian!" Mendengar itu, biasanya mereka memutar-mutar bola mata mereka dan mendesah, seakan berkata, "Oh, haruskan kami mendengar pidato itu lagi?" kadang-kadang mereka menirukan aku dengan suara melengking, "Ya, ya, kalian tahu Ayah mencintai kalian dan akan selalu mencintai kalian..." Tetapi aku yakin, mereka suka mendengar kata-kataku. Suatu hari, aku berangkat tanpa mengucapkan pidatoku, aku lupa. Mereka menghubungi telepon mobilku dan berkata, "Ayah, katakan Ayah mencintai kami!"

Pengalaman di pesawat mengajariku untuk menghargai hidupku dan hidup orang-orang lain di sekelilingku. Sekarang aku mengerti betapa berharga dan rapuhnya hidup ini dan bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Mendiang ibuku selalu berkata, "Man proposes and God disposes" (Manusia berencana dan Tuhan menentukan). Tetapi sebenarnya ibuku lebih suka pepatah Yahudi yang lebih mengena, "Man plans and God Laughs" (Pria membuat rencana dan Tuhan tertawa).

Ketika Aku Harus Memilih

Ketika Aku Harus Memilih

Aku pernah berfikir, bahwa setiap manusia pasti ingin memiliki seorang KEKASIH. Kekasih yang akan terus bersamanya, sehidup semati, dalam suka maupun duka tak akan terpisahkan.
Sekarang, aku memilih AMAL SHOLEH sebagai kekasihku. Karena ternyata hanya amal sholeh-lah yang akan terus menemaniku, bersamaku, bahkan menemaniku dalam kuburku, kemudian amal sholehku pula lah yang menemaniku menghadap Allah.

Aku pernah berfikir, setiap manusia pastilah punya goresan masalah dengan manusia lain, sehingga wajar jika manusia memiliki MUSUH masing-masing. Kini aku memilih menjadikan SETAN sebagai musuh utamaku, sehingga aku lebih memilih MELEPASKAN kebencian, dendam, rasa sakit hati, dan permusuhanku dengan manusia lain.

Aku pernah selalu KAGUM pada manusia yang cerdas, dan manusia yang berhasil dalam karir, atau kehidupan duniawinya. Sekarang aku mengganti kriteria kekagumanku ketika aku menyadari bahwa manusia hebat dimata Allah, adalah hanya manusia yg BERTAQWA. Manusia yg sanggup taat kpd aturan main Allah dlm menjalankan hidup & kehidupannya.

Dulu aku akan MARAH dan merasa harga diriku dijatuhkan, ketika orang lain berlaku zhalim padaku, menggunjingkan aku, menyakiti aku dengan kalimat kalimat sindiran yg disengaja untuk menyakitiku.
Sekarang aku memilih utk BERSYUKUR dan berterima kasih, ketika meyakini bahwa akan ada TRANSFER PAHALA dr mereka untukku jika aku mampu BERSABAR... Dan aku memilih tidak lagi harus khawatir, karena harga diri manusia hanyalah akan jatuh dimataNya, ketika dia rela menggadaikan dirinya untuk mengikuti hasutan setan.

Dulu aku yakin, dgn hanya KHATAM Al Qur'an berkali kali maka jiwaku akan tercerahkan. Kini aku memilih untuk MENGERTI dan MEMAKNAI artinya dengan menggunakan akalku, dengan mengaktifkan qolbuku dan mengamalkannya dalam keseharianku, maka pencerahan itu baru bisa aku dapatkan.

Ketika aku harus memilih...bantu aku Yaa Rabb, utk selalu memilih yg benar dimataMu..

Amin

CA-Bandung Art Page
BAKUL50